Sunday, May 10, 2020

Tren Digital, dan Prank Sembako


Tren digital saat ini sedang marak. Hampir semua hal bisa di genggam melalui gadget yang kita pegang. Bahkan dalam hal membuat pemasukan bagi pemenuhan kebutuhan hidup atau kasar kata kita bilang cari duit. Banyak aktivitas yang bisa kita lakukan menggunakan kecanggihan teknologi saat ini untuk menghasilkan uang.

Saluran video online, atau yang kita kenal youtube, merupakan salah satu dari sekian banyak akses teknologi untuk menghasilkan pundi-pundi uang. Cara kerja saluran ini adalah dengan membuat video yang menarik banyak penonton dan nantinya si pembuat video akan mendapatkan royalti baik dari iklan maupun endorsement.

Hal ini tentu bagus, dan harus kita manfaatkan, akan tetapi, ada baiknya jika kita menggunakan saluran ini untuk membuat video yang syarat akan makna positif. Memang sih kita di beri kebebasan untuk berkarya. Tapi bukan berarti kita bikin karya untuk menjatuhkan pihak tertentu demi ketenaran kita pribadi.

Ya, kasus yang sedang hangat baru-baru ini adalah seorang youtuber yang membuat video dengan tema prank. Dimana prank yang kali ini merupakan prank yang sungguh-sungguh prank karena betul-betul membuat heboh banyak pihak. Bagaimana tidak, prank yang dilakukan kali ini ialah prank memberikan sembako kepada pihak yang dianggap membutuhkan namun isi dari sembako tersebut adalah sampah dan batu-batu yang memang bukan sembako.

Duh, kejadian seperti ini pasti menyayat hati banyak orang. Karena apa, pastinya jika kita berbicara mengenai hal seperti ini kaitannya sangat erat dengan kondisi kantong seseorang. Betapa sedihnya kita apabila diri kita yang sedang butuh-butuhnya diberikan sembako malah dikerjain.

Akhirnya kita harus lebih bijak dalam membuat karya, setidaknya kalau kita belum bisa memberikan karya yang menarik dan bermanfaat bagi semua orang, kita jangan buat karya yang menyakiti orang lain.


Brand pada Diri Manusia


Pada artikel kali ini, akan diangkat artikel tentang brand. Sebelumnya, sobat pembaca sekalian pasti sudah sering dengar ya tentang kata brand. Jadi, rasanya sudah tidak asing lagi dengan kata yang satu ini, akan tetapi, sebetulnya kita sadar kah kalau ternyata diri kita pribadi juga merupakan sebuah brand lho. Kok bisa gitu?

Kita lihat dulu, secara arti, brand merupakan sebuah gambaran atau citra tentang suatu produk atau merk. Brand juga merupakan sebuah identitas yang menjadi sebuah produk atau jasa menjadi berbeda. Brand juga bisa disebut sebagai karakteristik dari produk atau jasa.

Nah, setiap masing-masing dari jiwa manusia itu pasti beda dan unik. Ada seorang pribadi yang suka berorasi diatas panggung, ada juga seorang pribadi yang selalu bergulat dengan alat musiknya. Apapun itu, itulah yang menjadi pembeda atau tanda setiap insan manusia.

Kondisi yang sedemikian itu bisa kita sebut sebagai personal branding, dimana merupakan sebuah proses untuk menciptakan kesan dan reputasi dari suatu kondisi. Jika sobat pembaca semua mulai membangun aktivitas keseharian dengan aktivitas sosial, maka dalam beberapa tahun kedepan pasti reputasi atau citra yang diberikan kepada sobat adalah pegiat sosial, dan apapun hal-hal yang berbau sosial pasti sobat akan dimintai pendapat.

Kondisi lain lagi jika sobat pembaca sudah memulai aktivitas bermain musik sedari dini, maka citra atau kesan yang akan dibangun adalah pandangan sebagi seorang musisi. Akhirnya, yuk sobat pembaca semua mulai melakukan hal-hal yang bisa membangun citra diri. Sehingga pada akhirnya kita bisa menjadi pribadi yang membawa dampak positif